Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Di Pesawat Garuda Akan Tersedia Akses Internet WiFi

interior dalam pesawat
Tak lama lagi, penumpang pesawat maskapai Garuda Indonesia bisa ber-internet ria di atas kabin pesawat. Sebab, maskapai pelat merah ini akan menyediakan fasilitas akses Wireless Fidelity atau WiFi bagi penumpang yang ikut terbang.

Pujobroto, Vice President Corporate Communication PT Garuda Indonesia Tbk mengatakan, pemasangan instalasi akan dilakukan bertahap mulai tahun ini. Targetnya, Oktober 2012 sudah ada pesawat milik Garuda Indonesia yang bisa menjalankan in flight connectivity ini.

“Akses internet nantinya bisa dinikmati semua penumpang, baik penumpang kelas bisnis maupun kelas ekonomi. Oktober kami pasang untuk rute domestik maupun luar negeri,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Kamis (5/4).

Dia pun memastikan, akses internet itu tidak akan mengganggu sistem navigasi pesawat, karena menggunakan teknologi terkini. Untuk menyediakan akses internet itu, Garuda Indonesia akan menggandeng PT Telkom.

Walaupun nanti ada koneksi WiFi, Pujobroto meyakinkan tidak ada kenaikan harga tiket penerbangan. Pasalnya, pemberian fasilitas WiFi menjadi salah satu bentuk komitmen Garuda Indonesia untuk meningkatkan pelayanan.

Kenaikan BBM, Massa Demo di Depan Istana


Lebih dari seribu buruh menggelar unjuk rasa menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang akan diberlakukan 1 April 2012 nanti. Aksi ini digelar di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu 21 Maret 2012.

Aksi unjuk rasa ini dipusatkan di depan gerbang Monas yang terletak di seberang Istana Merdeka, dan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Kegiatan demonstrasi ini antara lain digelar DPP KSPSI, FSPMI, Sekber Buruh, Fesbuker Indonesia, Den KSBSI, KSPI, DPP FSPOI, Aksi Bersama Buruh, dan Komite Perjuangan Rakyat.

Guna mengawal aksi ini, Kepolisian Daerah Metro Jaya menerjunkan sekitar 4.000 personel gabungan dari kepolisian wilayah. Terlihat juga personel PHH dari TNI yang menjadi gerbang masuk Istana Negara.

Kegiatan unjuk rasa ini membuat arus lalu-lintas di sekitar lokasi aksi tersendat. Kawasan di depan gerbang Istana tampak dipagari kawat berduri. Aparat kepolisian pun bersiaga di depan Istana, lengkap dengan rompi dan senapan. Tiga water canon pun disiapkan di lokasi.

Saat ribuan buruh menggelar orasi, sempat terjadi aksi saling dorong-mendorong antara polisi dan buruh yang mendesak untuk mendekati Istana dari arah Jalan Merdeka Barat. Sejumlah petugas yang berada di dalam lingkungan Istana, ikut keluar.

Setelah lebih dari tiga jam orasi, sekitar pukul 16.30 WIB, ribuan buruh itu membubarkan diri. Mereka meninggalkan lokasi usai menyampaikan aspirasi menolak kenaikan harga BBM.

Tapi sebagian pengujuk rasa meneruskan aksi mereka ke kantor Kementerian Kesehatan di Jalan Rasuna Said, Kuningan. Mereka berjalan kaki beriringan melewati Jalan Medan Meredeka Barat.

Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal, mengatakan aksi lanjutan di Kemenkes untuk mendesak segera diterapkannya Undang-undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

"Kami mendesak diberlakukan undang-undang itu secepatnya, agar jaminan kesehatan bagi buruh seumur hidup segera dilaksanakan," ujar Said.

Aksi jalan kaki yang dilakukan buruh mebuat polisi menutup akses Jalan Medan Merdeka Barat mengarah ke Jalan MH Thamrin.

Dengan selesainya unjuk rasa, maka pagar betis di depan Istana Negara pun turut membubarkan diri. Akses Jalan Medan Merdeka Utara ke arah Harmoni pun kembali lancar.

FOTO-FOTO :



BBM Naik, Ancaman Banyak PHK dan Pengangguran

Pemerintah memang belum secara resmi mengumumkan kenaikan harga BBM. Namun bayang - bayang bencana sudah mulai menghinggapi kalangan buruh. Kenaikan harga BBM otomatis akan membuat kebutuhan hidup buruh ikut melonjak, sementara di satu sisi upah mereka masih minim.


Seperti yang terjadi pada buruh pabrik rokok di Kudus. Sejauh ini saja mereka sudah terseok - seok dan terancam dirumahkan karena perusahaan mereka kesulitan dalam menjalankan bisnisnya. Terlebih jika harga BBM naik, sudah pasti perusahaan tambah kesulitan dan melakukan PHK karyawan akan menjadi alternatif terakhir bagi perusahaan.

"Terang saja kenaikan BBM bikin kami ketar - ketir, karena bisa menghancurkan hidup kami. Sebab, biaya hidup yang harus kami keluarkan tentu semakin banyak dan tidak akan tercukupi dengan upah yang kami terima selama ini. Selain itu, perusahaan kami bisa bertahan tidak nanti," kata Kasminah, salah seorang buruh di sebuah perusahaan rokok yang ada di Kudus.

Salah satu biaya hidup yang akan melonjak adalah sektor transportasi. Padahal, setiap harinya para buruh sangat menggantungkan pada transportasi angkutan umum untuk berangkat dan pulang dari brak. "Sekarang untuk pulang pergi sehari kami harus mengeluarkan Rp 6 ribu. Padahal upah kami sehari hanya berkisar Rp 12 ribu. Lantas, berapa lagi yang harus kami keluarkan untuk ongkos angkutan bila harga BBM naik," tambah Sumiah, buruh lainnya.

Disinggung mengenai adanya skenario pemerintah yang bakal memberikan kompensasi atas kenaikan harga BBM, menurut para buruh bukan solusi yang tepat. Sebab, seringkali kompensasi berupa BLT yang dikucurkan pemerintah jumlahnya tidak seberapa dan pencairannya tidak bisa cepat. "Bahkan, seringkali BLT yang diberikan tidak merata. Ada yang dapat dan ada yang tidak," tandasnya.

Aktifis Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) Kudus, Slamet Mahmudi mengatakan, dengan adanya rencana kenaikan harga BBM, harus ada negoisasi ulang terkait besaran upah buruh yang sudah terlanjur ditetapkan melalui UMK. Pemerintah dalam hal ini Dinsosnakertrans harus melakukan intervensi kepada pihak pengusaha agar menaikkan upah buruh sesuai persentase kenaikan harga BBM.

Pihak Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kudus, menyatakan, semua perusahaan anggota Apindo menggunakan BBM industri atau nonsubsidi. Hanya saja, imbas kenaikan harga BBM akan berpengaruh pada komponen usaha lainnya. "Kalau untuk BBM sendiri, bagi kami tidak ada pengaruhnya soal harga. Tapi, ada banyak komponen yang terpengaruh akibat kebijakan tersebut," tandasnya.

Ribuan buruh tekstil di kota Pekalongan akan 'sekarat' dan terancam sengsara, menyusul rencana kenaikan BBM bulan April mendatang. Bagaimana tidak? Belum benar terjadi kenaikan BBM, harga berbagai kebutuhan pokok di pasaran telah mengalami kenaikan mencapai 5 sampai 10 persen. Sehingga dipastikan, saat pemerintah nekat menaikkan BBM, kebutuhan pokok dipastikan lagi bakal naik mencapai 15 persen lebih. Buruh menilai, bohong besar jika estimasi pemerintah, berbagai kebutuhan pokok hanya mengalami kenaikan maksimal 7 persen saat BBM naik.
 

Followers

Categories

Recent Comment